Membedakan antara Opini dan Interpretasi

Membedakan antara Opini dan Interpretasi

Banyak tulisan yang telah dibuat dengan berbagai tujuan dan dikonsumsi secara umum. Terlebih dengan makin cepatnya penyebaran tulisan melalui media social yang menjadi trend hingga saat ini. Tapi sayangnya sedikit yang melakukan analisa untuk apa sebenarnya sebuah tulisan dibuat. Padahal hal ini penting untuk mememisahkan antara opini dan interpretasi penulisnya, karena banyak orang yang keliru dengan tidak bisa membedakan antara keduanya.

Kali ini saya akan mencoba menulis dengan contoh sederhana yang ada di sekeliling kita. Ternyata, masih banyak yang tidak bisa membedakan antara opini dan interpretasi. Padahal pada jenis penulisan seperti biografi misalnya, hal ini akan berakibat pada kerancuan tulisan, karena kadang apa yang kita dapatkan dari wawancara tokoh akan berbeda jauh dengan hasil tulisan kita.

Apa akibatnya?

Tulisan kita akan banyak salahnya. Penyebabnya karena kita menyimpulkan sesuatunya sendiri, bukan kesimpulan dari tokoh yang kita tulis. Meskipun dalam pemaparan tokoh selalu menyatakan argumen-argumen yang menyebutkan bahwa ia akan melakukan prilaku/ sikap A.

Tapi tetap yang benar adalah kita harus mengkonfirmasi kepada tokoh apa yang menjadi opini kita saat itu supaya apa yang kita tulis nantinya bukan dari opini kita, tapi memang interpretasi dari tokoh.

Misalnya dalam contoh adalah sebagai berikut:

Saat kita melakukan wawancara dengan seseorang, dia mengatakan bahwa jarak antara rumah dan tempat kerjanya sangat jauh, beban kerjanya di kantor sangat berat karena merupakan perusahaan kecil yang tiap bulan harus “all out” demi sekeedar bisa membayar gaji karyawannya…..

Saat kita tidak melakukan pertanyaan lebih lanjut, maka kita menyimpulkan sendiri bahwa dia tidak bahagia dengan pekerjaannya. Ini adalah opini. Karena kita menyimpulkan sendiri apa yang belum kita konfirmasi pada orang tersebut.

Tapi saat kita tanyakan lebih lanjut, “Apakah Anda merasa nyaman dengan pekerjaan ini?”

Ternyata jawabannya sebaliknya. Karena bagaimanapun ini adalah pengalaman kerja pertamanya. Jadi masalah jarak, beban kerja dan apapun yang terjadi di dalam kantornya dia anggap sebagai pembelajaran kelak saat ia mungkin punya kesempatan untuk mempunyai usaha sendiri.

Nah, jika jawaban ini sudah didapatkan, apa yang tokoh ini pikirkan, rasakan, dan alami selama kerja ini bisa menjadi interpretasi kita terhadap apa yang dialami tokoh. Ini sah-sah saja.

Jadi memang sangat penting bertanya sangat detail dalam wawancara, karena untuk menghindari kesalahan dalam beropini.

Kaitannya dengan banyaknya tulisan yang di share ke berbaagi media sosial saat ini, sebaiknya juga kita melakukan analisa, apakah tulisan yang ada adalah opini pribadi penulisnya, atau merupakan interpretasi dia terhadap apa yang dilakukan seorang tokoh yang berpengaruh dalam kehidupan di sekitar kita. Ini penting untuk mencegah perpecahan belakangan ini yang terjadi pada masyarakat kita.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2020 PENULIS KREATIF

Iwan Wahyudi adalah Penulis Biografi, Ghost Writer dan Content Strategist yang mulai banyak dikenal di Indonesia. 

Sebagai penulis biografi dan ghost writer telah membantu 20 an klien menyelesaikan penulisan bukunya. 

Sebagai content strategis bukan hanya menjadikan situs yang dikelola banyak dikenal oleh klien, tapi juga dengan itu ia dapat membantu penulis profesional lainya dalam mendapatkan klien sesuai kapasitasnya. 

Kini ia mulai merintis self publihing dengan harapan bisa membantu klien mulai dari penulisan konten buku, pewajahan hingga cetak buku sesuai budget yang disediakan oleh setiap klien. 

Ia akan tetap membuka peluang kerjasama dengan pihak manapun, baik pribadi, perusahaan, agency desain, advertising dan yang lainnya untuk tetap memberikan konten yang kreatif dan berkualitas. 

Minat bekerja sama ? Silahkan WA di 0857 1149 4600